KOTA BIMA.OBORBIMA.ID — Wali Kota Bima H. Arahman, SE melontarkan pesan tegas kepada masyarakat agar tidak mudah mempercayai dan menyebarkan informasi yang beredar di media sosial tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan fasilitasi sosialisasi dan edukasi literasi digital di Kota Bima, Sabtu (12/9/2026).
H. Arahman menilai perkembangan teknologi digital memang memberikan kemudahan luar biasa bagi masyarakat. Hanya dengan telepon genggam, seseorang dapat memperoleh informasi, berkomunikasi, belajar, bekerja, berbelanja hingga memasarkan produk usaha.
Namun di balik kemudahan itu, terdapat persoalan serius. Arus informasi yang begitu cepat justru dapat menjadi bumerang ketika masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memilah dan memverifikasi informasi.
“Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada pikiran kita,” tegas H. Arahman.
Menurutnya, sesuatu yang viral tidak otomatis berarti benar. Persoalan menjadi lebih serius ketika informasi yang belum teruji langsung disebarluaskan dan akhirnya merugikan seseorang, keluarga maupun institusi.
Ia meminta masyarakat mengubah kebiasaan bermedia sosial. Sebelum membagikan sebuah informasi, masyarakat harus bertanya: apakah informasi ini benar, dari mana sumbernya, apa manfaatnya, dan apakah dapat merugikan orang lain?
“Kadang kala kita belum memahami persoalannya, belum meneliti kebenaran beritanya, kita sudah lebih dahulu membagikan,” ujarnya.
Kritik di Media Sosial Jangan Berangkat dari Asumsi
H. Arahman juga menyinggung fenomena ketika sebuah kebijakan atau program pemerintah langsung mendapat sorotan di media sosial tanpa dipahami secara menyeluruh.
Ia mencontohkan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir di Kota Bima. Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya panjang pemerintah untuk mengatasi persoalan banjir yang pernah menghantam Kota Bima pada 2016.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah hingga mendapatkan dukungan program pembangunan infrastruktur dari lembaga internasional.
Namun, kata dia, di tengah proses tersebut muncul komentar di media sosial yang mempertanyakan pembangunan hanya sebagai proyek semata.
Padahal, menurut H. Arahman, masyarakat perlu melihat secara utuh tujuan pembangunan dan manfaatnya bagi kepentingan publik.
“Kadang kala kita terlalu cepat menjustifikasi semuanya sesuai dengan pemahaman dan kepentingan personal kita,” katanya.
Ia tidak mempersoalkan masyarakat memberikan kritik. Namun, kritik menurutnya harus dibangun berdasarkan informasi yang benar, bukan sekadar asumsi atau informasi yang belum terverifikasi.
Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Main Media Sosial
Wali Kota Bima menegaskan bahwa literasi digital tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan menggunakan telepon pintar atau mengakses media sosial.
Masyarakat harus menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, etis dan bertanggung jawab.
Sebab, ruang digital juga membawa ancaman berupa hoaks, ujaran kebencian, penipuan digital, perjudian siber hingga berbagai bentuk kejahatan lainnya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat agar menjadikan internet sebagai sarana yang memberikan manfaat nyata.
Generasi muda Kota Bima, misalnya, diharapkan menggunakan internet untuk belajar, berkarya dan mengembangkan kreativitas.
Sementara pelaku UMKM didorong memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran produk.
“Internet jangan hanya digunakan untuk hiburan. Gunakan untuk belajar, menciptakan karya, membangun jejaring dan yang paling utama menghasilkan nilai ekonomi,” tegasnya.
H. Arahman juga berharap aparatur pemerintah semakin mampu memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan pelayanan publik yang transparan, tepat dan mudah diakses masyarakat.
Ia mengapresiasi kehadiran tim dari Jakarta yang memberikan edukasi literasi digital di Kota Bima.
Menurutnya, kolaborasi semacam ini penting untuk membangun kesadaran masyarakat agar semakin dewasa dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Sebab, di tengah derasnya informasi, kecepatan membagikan berita bukanlah ukuran kecerdasan. Kemampuan memastikan kebenaran justru menjadi ukuran penting dalam bermedia sosial.
#OB.002#
