Terbongkar! Dugaan Permainan Timbangan dan Kadar Air Jagung Rugikan Petani Bima

Headline25 Dilihat

KOTA BIMA.OBORBIMA.ID  – Praktik dugaan kecurangan dalam bisnis jual beli jagung di wilayah Bima mulai menjadi sorotan publik. Sejumlah petani mengaku dirugikan akibat dugaan manipulasi alat timbang dan alat ukur kadar air (moisture meter) yang dilakukan oleh oknum pengepul maupun pembeli jagung.

Berdasarkan hasil penelusuran dan informasi dari sejumlah sumber terpercaya, dugaan praktik tersebut disebut telah berlangsung cukup lama dan hampir selalu muncul setiap musim panen jagung, baik di wilayah hukum Polres Bima Kota maupun Polres Bima.

Modus yang diduga dilakukan yakni pengurangan berat timbangan secara tidak wajar dengan alasan penyusutan, hingga dugaan rekayasa kadar air jagung untuk menekan harga beli dari petani.

Beberapa petani mengaku hasil panen mereka sering dinilai memiliki kadar air tinggi, meskipun jagung telah melalui proses pengeringan sesuai standar. Kondisi itu menyebabkan harga jual turun drastis atau dilakukan pemotongan berat secara sepihak oleh pembeli.

Selain dugaan manipulasi timbangan, perhatian juga tertuju pada penggunaan alat ukur kadar air berbagai merek yang hasil pengukurannya dinilai tidak konsisten.

Hasil uji lapangan terhadap sampel jagung yang sama pada dua perusahaan pengepul berbeda di Kota Bima menunjukkan adanya selisih hasil pengukuran kadar air.

Pengujian pertama dilakukan di salah satu gudang pengepul menggunakan moisture meter merek GMM Mini dengan hasil kadar air 14,5 persen.

Sementara pengujian kedua menggunakan alat PM-450 di gudang berbeda menunjukkan hasil 14,8 persen.

Perbedaan hasil tersebut memunculkan pertanyaan mengenai akurasi alat ukur yang digunakan para pengepul jagung di lapangan.

Sejumlah pihak meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait segera turun melakukan pengawasan, tera ulang alat timbang, hingga pemeriksaan legalitas alat ukur kadar air yang digunakan para pelaku usaha jagung.

Petani berharap adanya langkah tegas dari aparat penegak hukum dan dinas terkait agar praktik-praktik yang merugikan masyarakat tani tidak terus berulang setiap musim panen.

“Kami hanya ingin ada keadilan. Jangan sampai petani terus dirugikan karena permainan alat,” ujar salah seorang petani jagung yang enggan disebutkan namanya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengepul maupun instansi terkait mengenai dugaan tersebut.

#OB.008#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *