BIMA.OBORBIMA.ID – Tim Ekspedisi Patriot UI melanjutkan rangkaian kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema pendidikan bersama dengan para kepala sekolah dan tenaga pendidik dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD hingga SMP di Desa Kawinda To’i, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima.
Tim yang terdiri dari Dr. Raisye Sholeh Haghia, M.Hum,. selaku ketua tim, bersama dengan para anggota yang terdiri dari Hilmizar Wahyu Pradana, Rara Rastri Widyakinasih, Yuliana Rahmawati, dan Maulana Malik Ibrahim menyelenggarakan FGD di Kantor Desa Kawinda To’i.
Kegiatan diskusi yang diadakan pada Kamis (30/10) ini membuka ruang dialog antara tim ekspedisi dengan para tenaga pendidik untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan yang ada di Desa Kawinda To’i.
Beberapa isu utama yang muncul mencakup keterbatasan tenaga pengajar, kurangnya jumlah ruang kelas, kendala penerapan kurikulum nasional, hingga lemahnya kolaborasi antara guru dan orang tua murid dalam proses pendidikan anak.
Para peserta FGD menuturkan bahwa banyak sekolah di Kawinda To’i, khususnya di satuan pemukiman transmigrasi memiliki masalah yang serupa, yakni kekurangan ruang kelas yang memadai sehingga mereka terpaksa menggabungkan dua kelas dalam satu ruangan sekaligus.
“Ruang kelas di sekolah itu sebenarnya kurang sekali, di SDN Sori Laju saja total ada enam Rombel (rombongan belajar), tapi ruang kelasnya cuma ada tiga jadi untuk mengakalinya kami gabung siswa kelas 1 dan kelas 2 di ruang yang sama meskipun sebenarnya kurang efektif karena mengganggu fokus anak, tapi kami tidak ada pilihan lain,” ujar Pak Burhan selaku kepala sekolah SDN Sori Laju.
Selain itu, akses jaringan internet yang sangat terbatas juga menjadi kendala besar dalam penerapan kurikulum nasional yang berbasis digital.
“Terkait kurikulum, kami sebagai guru juga sering kali kesulitan untuk menyesuaikan dengan nasional karena apa-apa serba digital, bahkan buku pun perlu pakai barcode sedangkan di sini sinyal internet susah sekali,” ujar Pak Nurdin sebagai kepala sekolah SDN Oi Marai.
Isu lain yang dihadapi oleh para guru adalah terkait dengan peran orang tua dalam pendidikan anak. Banyak guru menyampaikan bahwa sebagian besar orang tua cenderung menyerahkan urusan pendidikan sepenuhnya kepada guru di sekolah.
Ketika anak berperilaku kurang baik, sering kali guru menjadi pihak yang disalahkan. Padahal, pendidikan karakter juga perlu dukungan dari orang tua di rumah.
Selain aspek pendidikan, sesi FGD berikutnya dilanjutkan dengan mengangkat tema sosial-budaya dan ekonomi masyarakat transmigran.
Sesi ini dihadiri oleh perwakilan warga dari berbagai satuan pemukiman yang dihuni oleh kelompok transmigran dari berbagai daerah, seperti Bima dan Lombok.
Kegiatan FGD ini juga menjadi ruang reflektif untuk memahami bagaimana masyarakat dari dua latar belakang yang berbeda dapat hidup berdampingan dalam satu ruang sosial.
Para peserta FGD menuturkan bahwa meskipun terdapat perbedaan kebiasaan dan tradisi, masyarakat transmigran di desa Kawinda To’i telah menjalin hubungan sosial yang cukup harmonis melalui berbagai aktivitas pertanian dan kegiatan sosial di desa.
“Beda orang Lombok sama orang Bima di sini, kalau orang Lombok itu lebih suka makanan pedas, sedangkan kalau orang Bima lebih suka yang asin-asin. Meski begitu setiap kali kita ada acara seperti pernikahan atau khitanan pasti masakannya ada dua jenis, yang pedas sama yang asin supaya orang Lombok dan orang Bima sama-sama bisa menikmati hidangannya,” ujar Pak Suhirman sebagai salah satu peserta FGD dari kelompok warga transmigran Lombok.
Namun, di balik harmoni sosial antar warga transmigran, masih terdapat banyak persoalan ekonomi yang menjadi tantangan bagi masyarakat. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perikanan, tetapi perkembangan ekonominya berjalan lambat akibat keterbatasan fasilitas.
Dalam diskusi, peserta FGD menyoroti minimnya sistem irigasi yang layak dan peralatan pasca-panen yang seharusnya membantu peningkatan produktivitas. Ironinya, bantuan alat pertanian yang pernah diberikan oleh pemerintah justru dijual oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Dulu pernah dapat bantuan dari dinas transmigrasi, ada traktor, ada mesin pemecah biji mete, ada mesin segala macam itu banyak, tapi alatnya malah dijual sama mereka itu,” ungkap Bu Salma sebagai salah satu warga transmigran di SP 3, Dusun Oi Marai.
Selain membahas kendala, diskusi ini juga menyoroti potensi ekonomi lokal yang belum tergarap optimal, seperti pariwisata dan hasil laut. Potensi ini dinilai dapat menjadi modal besar bagi pengembangan ekonomi masyarakat transmigrasi di Kawinda To’i jika dikelola secara berkelanjutan dan melibatkan warga secara langsung.
*OB 11*
