BIMA.OBORBIMA.ID – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia kembali melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan perangkat Desa Kawinda To’i Kecamatan Tambora Kabupaten Bima pada Rabu (29/10).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Kawinda To’i ini diselenggarakan oleh Dr. Raisye Sholeh Haghia, M.Hum., sebagai ketua tim, bersama dengan anggota yang terdiri dari Hilmizar Wahyu Wira Pradana, Rara Rastri Widyakinasih, Yuliana Rahmawati, dan Maulana Malik Ibrahim.
FGD ini dihadiri oleh Kepala Desa Kawinda To’i beserta jajaran perangkat desa lain, seperti bendahara desa, ketua BPD, kepala dusun dari masing-masing Satuan Pemukiman (SP), yakni Dusun Mpode dan Dusun Oi Marai yang merupakan SP 3, Dusun Danakala yang merupakan SP 4, dan Dusun Sori Nae yang merupakan SP 5, serta ketua BUMDes, dan ketua Koperasi Merah Putih.
Diskusi ini membahas tiga isu utama, yakni aspek kelembagaan, infrastruktur, dan lingkungan.
Koordinator lapangan tim Ekspedisi Patriot UI, Hilmizar Wahyu Pradana, menjelaskan bahwa, FGD ini bertujuan untuk memverifikasi hasil observasi lapangan yang telah dilakukan tim selama 3 minggu sebelumnya.
Selain itu, kata dia, FGD ini juga bertujuan untuk memetakan skala prioritas pembangunan, serta menyusun rekomendasi kebijakan berdasarkan permasalahan yang ada di lapangan.
Dalam sesi diskusi, para perangkat desa menyoroti tantangan yang dihadapi wilayah transmigrasi, seperti kerusakan akses jalan akibat banjir, ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian, keterbatasan SDM unggul, hingga masalah sengketa lahan yang belum tuntas.
Tim Ekspedisi Patriot UI mencatat dan memetakan segala keluhan dan masukan tersebut sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan.
Selain aspek kelembagaan, infrastruktur, dan lingkungan, Tim Ekspedisi Patriot UI juga melanjutkan rangkaian FGD dengan mengangkat topik mengenai kesehatan, khususnya pada pelayanan dasar di tingkat pemukiman.
Peserta FGD yang diundang berasal dari kalangan ketua dan kader posyandu yang mewakili tiap satuan pemukiman di Desa Kawinda To’i.
Dalam sesi FGD ini, para peserta berbagi pengalaman dan kendala yang mereka hadapi selama menjalankan pelayanan kesehatan di tingkat dusun. Beberapa persoalan utama yang muncul selama forum tersebut berlangsung adalah kondisi bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) yang sudah tidak layak pakai, keterbatasan obat-obatan, hingga ketidakteraturan jadwal pelayanan dari Puskesmas induk yang seharusnya melakukan kunjungan rutin setiap bulannya.
“Kadang puskesmas yang dari kecamatan itu belum tentu hadir tiap bulan, bilangnya mau datang jam 2 siang, tapi kami tunggu-tunggu gak datang padahal mereka (pihak puskesmas induk) selalu datang kalau di desa induk,” ujar Bu Ani selaku kader posyandu SP 5.
Selain berdiskusi, kegiatan ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi awal lewat sesi penentuan skala prioritas berjangka. Pada sesi tersebut, secara umum tiap peserta mengharapkan adanya perbaikan fasilitas Pustu yang sudah tidak layak pakai.
Tim Ekspedisi Patriot UI berkomitmen untuk menyusun catatan hasil FGD ini sebagai bahan penyusunan laporan yang dapat digunakan oleh pemerintah terkait dalam perencanaan pembangunan sektor kesehatan dasar, khususnya di tingkat dusun.
*OB.008*
