Garam Bima Naik Kelas! Washing Plant Resmi Beroperasi, “Garam Merah Putih” Siap Tembus Pasar Nasional

Pemerintahan32 Dilihat

BIMA.OBORBIMA.ID  – Pemerintah Kabupaten Bima terus mendorong peningkatan kualitas dan nilai tambah garam produksi masyarakat. Langkah tersebut ditandai dengan peresmian Washing Plant sekaligus peluncuran produk konsumsi bermerek “Garam Merah Putih Bima” di Desa Donggobolo, Kecamatan Woha, Selasa (6/10/2026).

Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Bima, dr. H. Irfan Zubaidy, bersama Kepala Balai Besar Garam Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Dr. Muh. Zaki Mahasin, S.Pi., M.Si., ditandai dengan pengguntingan pita di halaman Pabrik Pengolahan Garam Bima, Jalan Lintas Bima–Sumbawa.

Kehadiran Washing Plant menjadi langkah strategis untuk mengubah garam rakyat dari sekadar bahan baku menjadi produk bernilai tambah.

Melalui proses pencucian, pemurnian hingga iodisasi, fasilitas tersebut ditargetkan mampu meningkatkan mutu garam agar memenuhi standar industri dan SNI.

Wakil Bupati Bima dr. H. Irfan Zubaidy menegaskan, peningkatan kualitas merupakan kunci agar garam lokal memiliki harga jual lebih tinggi dan mampu menembus pasar yang lebih luas.

“Kalau kita mau harga garam bagus, kita harus meng-upgrade garam menjadi garam industri. Bisa untuk pertambangan, kosmetik, makanan dan minuman. Ruangnya sangat banyak,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah tidak hanya ingin meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan hasil garam masyarakat memiliki kepastian pasar dan harga yang layak. Dengan demikian, peningkatan nilai tambah dapat dirasakan langsung oleh para petani garam sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.

“Kita harus menatap masa depan yang baik untuk seluruh petani garam di Kabupaten Bima. Tugas kita bersama memastikan garam-garam kita terbeli agar nasib masyarakat petani kita semakin baik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Garam KKP RI Muh. Zaki Mahasin menyebut keberadaan Washing Plant sebagai fondasi awal dalam membangun industri garam yang lebih kuat di Kabupaten Bima.

Ia mendorong adanya kemitraan antara pihak swasta, BUMD dan koperasi sehingga pemasaran produk garam Bima tidak hanya terbatas di daerah, tetapi dapat diperluas hingga wilayah Jawa dan Sulawesi.

KKP juga siap memberikan pendampingan kepada sumber daya manusia lokal, mulai dari peningkatan teknik produksi dan pengolahan hingga pengembangan bisnis garam.

Di sisi lain, Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Garam Indonesia (GGTI) Nangatolosia, Khalil Alfalah, menegaskan komitmen koperasi untuk mendorong agar garam Bima terlebih dahulu diolah di daerah sebelum dipasarkan ke luar daerah.

Menurutnya, langkah tersebut akan memberikan nilai tambah bagi produk lokal, memperluas akses pasar, sekaligus membuka peluang pengembangan hingga pasar ekspor.

Momentum tersebut juga ditandai dengan peluncuran produk konsumsi “Garam Merah Putih Bima”, yang disebut telah mengantongi izin edar dan rekomendasi resmi dari BPOM.
Dengan beroperasinya fasilitas pengolahan dan hadirnya merek lokal tersebut, Kabupaten Bima kini memiliki peluang lebih besar untuk membangun rantai industri garam dari hulu hingga hilir.

Pemerintah berharap penguatan industri garam tersebut tidak hanya meningkatkan daya saing produk Bima, tetapi juga membuka lapangan usaha, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, meningkatkan kesejahteraan petani garam, serta memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.

Kegiatan turut dihadiri unsur KKP RI, Bappeda NTB, jajaran OPD Pemkab Bima, Anggota DPRD NTB Abdul Rauf, Direktur PT GMC, para petambak dan petani garam, koperasi serta tokoh masyarakat. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung fasilitas pengolahan di Pabrik Washing Plant.

#OB.003#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *