KOTA BIMA.OBORBIMA.ID – Berbagai persoalan sosial dan pembangunan di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi perhatian dalam Diskusi Publik yang digagas Anggota DPRD Provinsi NTB, Abdul Rauf, ST., MM., dengan tema “Menggali dan Mencari Solusi atas Isu-Isu Sosial untuk Kemajuan dan Kesejahteraan NTB”.
Kegiatan yang berlangsung di Tambora Homestay, Kelurahan Penaraga, Kota Bima, Sabtu malam (13/6/2026), menghadirkan sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, pemuda, serta berbagai elemen masyarakat untuk membahas tantangan pembangunan yang masih dihadapi daerah.
Salah satu pemateri, Dosen STIH Muhammadiyah Bima, Dr. Firmanto, menyoroti rendahnya capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB dibandingkan rata-rata nasional.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa kualitas pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masih perlu mendapatkan perhatian serius.
“Sejak tahun 2017 saya terus memantau perkembangan IPM NTB. Hingga tahun 2025, posisi NTB masih berada di peringkat bawah secara nasional. Dari 38 provinsi di Indonesia, NTB masih berada di sekitar 12 besar terbawah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa capaian IPM NTB saat ini masih berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi tersebut juga tercermin pada sejumlah kabupaten dan kota di NTB, termasuk Kabupaten Bima yang masih berada di kelompok daerah dengan IPM rendah di Pulau Sumbawa.
Menurut Firmanto, fakta tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia di NTB belum berjalan optimal. Karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih berpihak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing dengan daerah lain.
Selain membahas IPM, ia juga menyinggung isu ketimpangan pembangunan antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa yang selama ini menjadi perbincangan publik.
Menurutnya, berbagai persoalan pembangunan perlu dikaji secara objektif dan ilmiah untuk menemukan solusi terbaik bagi kemajuan daerah.
Dalam pemaparannya, Firmanto juga menekankan pentingnya keteladanan pemimpin dalam membangun karakter masyarakat.
Ia menilai banyak persoalan sosial yang terjadi saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga minimnya figur pemimpin yang mampu menjadi panutan.
“Kalau pemimpin mampu menjadi teladan dan memberikan contoh yang baik, saya yakin masyarakat akan mengikuti. Namun jika pemimpin gagal menjadi contoh, maka jangan heran jika berbagai persoalan sosial terus bermunculan,” tegasnya.
Diskusi publik tersebut berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang dialog untuk merumuskan solusi atas berbagai persoalan sosial dan pembangunan demi terwujudnya NTB yang lebih maju, adil, dan sejahtera.
#OB.001#
