MATARAM.OBORBIMA.ID — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Indah Dhamayanti Putri, mendorong penguatan kerja sama budaya antara NTB dan Australia melalui dokumentasi, penelitian, serta promosi wastra tradisional Lombok dan Bali ke tingkat internasional.
Komitmen tersebut disampaikan dalam peluncuran dan bedah buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections yang berlangsung di BaleKita, Mataram, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan tekstil tradisional Lombok dan Bali kepada masyarakat internasional, sekaligus memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Australia.
Peluncuran di Mataram tersebut merupakan kelanjutan dari peluncuran internasional di Adelaide, Australia. Acara ini mempertemukan unsur pemerintah, penulis, kolektor, pemerhati budaya, peneliti, serta perwakilan pemerintah Australia dalam upaya memperluas pertukaran pengetahuan mengenai warisan tekstil Nusantara.
Wakil Gubernur NTB yang akrab disapa Umi Dinda mengapresiasi perhatian Michael Abbott bersama Dr. James Bennett dan tim peneliti lintas negara yang memilih Lombok dan Bali sebagai fokus kajian dalam buku tersebut.
Menurutnya, penerbitan buku ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada dunia, sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat melalui warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.
“Begitu banyak provinsi yang memiliki keragaman tenunan dan budaya, tetapi beliau memilih Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Bali yang menjadi sumber inspirasi buku yang akan di-launching bersama pada hari ini,” ungkap Umi Dinda.
Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada penerbitan buku, tetapi berlanjut pada upaya nyata untuk memperkuat pelestarian budaya, khususnya melalui pengembangan Museum Negeri NTB.
Menurutnya, museum memiliki peran strategis dalam merawat koleksi, mendokumentasikan perjalanan sejarah, serta menyediakan ruang edukasi agar masyarakat semakin mengenal dan menghargai kekayaan tekstil tradisional daerah.
Dokumentasi yang baik dinilai menjadi salah satu kunci agar pengetahuan mengenai wastra NTB dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dan menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk di luar negeri.
Mengangkat Pengetahuan Lokal ke Panggung Internasional
Kolektor tekstil Michael Abbott menjelaskan, penyusunan buku tersebut berangkat dari keterbatasan literatur dan penelitian mendalam mengenai tekstil tradisional Lombok.
Ia menilai, pendokumentasian warisan budaya perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi suara, pengalaman, dan pengetahuan masyarakat lokal. Dengan demikian, sejarah tekstil tidak hanya dilihat dari perspektif peneliti luar, tetapi juga dari masyarakat yang mewariskan dan mempertahankan tradisi tersebut.
“Maka ada kesenjangan besar yang dikerjakan di buku ini memang ya, suara-suara ilmuwan lebih banyak didominasi oleh ilmuwan Barat. Waktunya sekarang Voices from the Global South, suara-suara dari lokal yang perlu didokumentasikan,” ujarnya.
Buku setebal 572 halaman itu mendokumentasikan ratusan motif tekstil tradisional Lombok serta keterkaitan historis dan budaya dengan Bali.
Penyusunannya melibatkan delapan penulis asal NTB bersama tim peneliti lintas negara. Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi pengetahuan lokal sebagai sumber utama dalam pencatatan dan pelestarian warisan budaya.
Melalui dokumentasi tersebut, tekstil tradisional tidak hanya dipandang sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas masyarakat yang menyimpan nilai sejarah, tradisi, dan perjalanan kebudayaan dari generasi ke generasi.
Beasiswa untuk Memperkuat Kapasitas Permuseuman NTB
Sebagai bentuk tindak lanjut kerja sama, Michael Abbott juga mengumumkan fasilitasi beasiswa selama enam minggu bagi staf permuseuman NTB untuk mempelajari tata kelola museum dan tekstil di Australia.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam pengelolaan koleksi, penelitian, konservasi, dan dokumentasi warisan budaya.
Kesempatan tersebut juga membuka ruang pertukaran pengalaman antara tenaga permuseuman NTB dan praktisi di Australia, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat mendukung pengembangan museum dan pelestarian koleksi tekstil tradisional di daerah.
Sementara itu, Konsul Jenderal Australia untuk Bali, NTB, dan NTT, Jo Stevens, menyambut baik penerbitan buku tersebut. Ia menilai publikasi ini menjadi sarana penting untuk mempererat pemahaman lintas budaya melalui karya seni dan tradisi masyarakat.
“Buku ini memberikan kesempatan bagi orang Australia dan orang-orang di seluruh dunia untuk lebih memahami seni dan orang-orang yang telah menciptakannya,” tutur Jo Stevens.
Menurutnya, pemahaman terhadap tekstil tradisional juga membuka kesempatan bagi masyarakat internasional untuk mengenal lebih dekat kehidupan, nilai, serta tradisi masyarakat yang berada di balik setiap karya.
Diplomasi Budaya untuk Masa Depan Warisan NTB
Peluncuran buku Two Islands, One Thread menunjukkan bahwa diplomasi budaya dapat dibangun melalui penelitian, publikasi, dan pertukaran pengetahuan yang melibatkan masyarakat lokal.
Bagi NTB, kerja sama dengan Australia menjadi peluang untuk memperluas pengenalan wastra tradisional ke tingkat internasional sekaligus memperkuat upaya pelestarian di daerah asalnya.
Pengakuan dunia terhadap kekayaan tekstil Lombok dan Bali diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dokumentasi, pengembangan kapasitas permuseuman, serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga tradisi.
Dengan dukungan berbagai pihak, wastra tradisional NTB berpeluang menjadi salah satu jembatan budaya yang menghubungkan masyarakat lokal dengan dunia internasional.
Lebih dari sekadar memperkenalkan kain tradisional, upaya ini merupakan langkah untuk menjaga ingatan kolektif, menghargai pengetahuan leluhur, dan memastikan warisan budaya tetap hidup serta dikenal oleh generasi mendatang.
#OB.14#
