KOTA BIMA.OBORBIMA.ID – Staf Ahli Wali Kota Bima Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Hj. Suharni, SE, menyoroti serius kualitas pembinaan peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Kota Bima.
Hal itu disampaikannya saat penutupan MTQ Tingkat Kecamatan Rasanae Barat Tahun 2026. Ia mengingatkan agar pelaksanaan MTQ tidak hanya berorientasi pada kemeriahan kegiatan dan pernak-pernik seremoni, tetapi harus dibarengi peningkatan kualitas peserta.
Menurut Hj. Suharni, Kota Bima masih menghadapi pekerjaan rumah dalam meningkatkan prestasi MTQ. Ia menyebut Kota Bima berada di urutan kedelapan dan masih tertinggal dalam sejumlah aspek penilaian.
“Kita tertinggal jauh, baik dari segi digitalisasi, penilaian, penampilan maupun kualitas bacaan. Ini harus menjadi bahan evaluasi kita bersama,” tegasnya.
Ia berharap Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) tingkat kecamatan maupun tingkat Kota Bima dapat memberikan masukan kepada pemerintah mengenai langkah konkret yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembinaan.
Menurutnya, potensi anak-anak Kota Bima sebenarnya cukup besar. Namun, potensi tersebut harus ditemukan sejak dini dan dibina secara berkelanjutan agar mampu membawa nama Kota Bima ke tingkat yang lebih tinggi.
Hj. Suharni juga menyoroti adanya kesenjangan kualitas peserta antara tingkat kelurahan, kecamatan hingga tingkat kota. Kondisi tersebut, kata dia, harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.
“Di tingkat kelurahan ada pesertanya, apalagi di tingkat kecamatan. Di satu sisi kita berharap anak-anak kita dapat membawa nama kelurahan, tetapi dari segi kualitas masih jauh. Kita menginginkan prestasi yang luar biasa,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar upaya meningkatkan prestasi tidak justru membuat pembinaan terhadap anak-anak lokal terabaikan. Menurutnya, pemerintah bersama LPTQ harus membangun sistem pembinaan yang mampu melahirkan peserta berkualitas dari Kota Bima sendiri.
“Jangan sampai pernak-pernik kegiatan kita lebih menonjol, tetapi dari segi kualitas kita angkat tangan. Mari kita benahi bersama,” katanya.
Lebih jauh, Hj. Suharni meminta para camat dan lurah untuk kembali memperhatikan keberadaan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) di setiap kelurahan.
Ia menilai pembinaan harus dimulai dari lingkungan paling bawah dengan menghidupkan kembali tradisi mengaji, khususnya Maghrib Mengaji.
“Pak Camat, tolong dicatat. Setiap kelurahan harus lebih dilihat lagi bagaimana potensi TPA atau TPQ yang ada di kelurahan masing-masing. Pembinaannya harus lebih ditingkatkan,” pesannya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya anak-anak pergi mengaji setelah Maghrib, di tengah perkembangan teknologi yang membuat anak-anak semakin banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam.
“Kalau kita lihat, apakah benar waktu anak-anak sekarang hanya untuk bermain HP? Sementara waktu Maghrib untuk mengaji sudah mulai tidak ada lagi. Mari kita hidupkan kembali Maghrib Mengaji,” ajaknya.
Hj. Suharni menegaskan, peningkatan kualitas MTQ membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Karena itu, pembinaan harus dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara konsisten di setiap kelurahan.
Ia berharap evaluasi tersebut menjadi momentum bagi pemerintah, LPTQ, camat, lurah, para pembina, orang tua dan masyarakat untuk bersama-sama membangun generasi Qur’ani yang tidak hanya mampu meraih prestasi, tetapi juga memiliki akhlak dan karakter yang baik.
“Kalau kualitas anak-anak kita dibina sejak dini, insya Allah ke depan Kota Bima tidak hanya menjadi peserta, tetapi mampu bersaing dan naik ke tingkat yang lebih tinggi,” pungkasnya.
