Dari Desa Sangia ke Arsip H.B. Jassin, Udin Sape Bima Ukir Sejarah Sastra Nasional

Ragam5 Dilihat

BIMA.OBORBIMA.ID  — Dari sebuah desa di Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, suara sastra kembali menembus panggung nasional. Kali ini datang dari Udin Sape Bima, putra Desa Sangia yang juga dikenal dengan nama Salahuddin Al Ayyubi.

Dua karya puisinya tercatat dalam antologi “Syair Persahabatan Dua Negara: Antologi Puisi”, terbitan Pustaka Senja Yogyakarta pada 2015.

Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa, buku tersebut kini tercatat sebagai koleksi fisik Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Jakarta, salah satu pusat dokumentasi penting sejarah sastra Indonesia.

Buku yang memuat karya 100 penyair Indonesia dan Malaysia itu tercatat dalam katalog dengan kode klasifikasi 811 SYA dan ditempatkan di Koleksi Umum Lantai 5.

Bagi Udin, pencapaian tersebut bukan sekadar soal sebuah buku yang tersimpan di rak perpustakaan. Lebih dari itu, namanya bersama karya yang lahir dari perjalanan panjang dunia kepenulisan kini menjadi bagian dari dokumentasi sastra Indonesia.

Salah satu puisinya yang berhasil masuk dalam antologi tersebut berjudul “Kau dan Waktu”. Dari lima karya yang dikirimkan Udin dalam proses seleksi, dua di antaranya dinyatakan layak dimuat.

Dari Desa Sangia Menembus Sastra Nasional

Perjalanan Udin di dunia kepenulisan tidak lahir secara instan. Ia mulai serius menekuni dunia tulis-menulis sejak 2010, ketika masih menjadi mahasiswa di Mataram.

Selama bertahun-tahun, ia konsisten menghasilkan karya dan mengikuti berbagai forum sastra. Namanya kemudian tercatat dalam sejumlah antologi nasional, termasuk karya-karya Komunitas Negeri Poci.

Udin menjadi kontributor dalam Dari Negeri Poci 4: Negeri Abal-abal (2013) dan Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (2014). Dalam antologi tersebut, namanya berdampingan dengan sejumlah penyair ternama Indonesia.

Jejak nasionalnya juga terlihat ketika Udin menjadi salah satu dari sembilan penyair NTB yang lolos dalam Pertemuan Penyair Nusantara VI (PPN-VI) di Jambi pada 2012.

Dari ribuan puisi yang masuk, hanya sebagian yang dinyatakan lolos kurasi. Forum tersebut mempertemukan penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Karya Udin Tembus Malaysia
Produktivitas Udin tidak berhenti pada penerbitan buku di dalam negeri. Sejumlah puisinya juga pernah dimuat di media Malaysia, di antaranya New Times Malaysia dan Utusan Borneo Malaysia.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari daerah tidak selalu berhenti di daerah. Dengan konsistensi, karya sastra dari Bima mampu menyeberangi batas wilayah bahkan dibaca hingga luar negeri.

Selain aktif menulis, Udin juga dikenal sebagai pembaca puisi. Tema yang diangkat dalam karyanya beragam, mulai dari cinta, pendidikan, sosial hingga politik dan kebudayaan.

Sejak masih berstatus mahasiswa, ia bahkan pernah mewakili NTB dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Produktif Melahirkan Buku
Perjalanan panjang tersebut juga melahirkan sejumlah buku tunggal.

Beberapa di antaranya Senja Kabut Dalam Gelas, Meraih Mimpi Itu Mudah Cukup Berpikir Positif, The Power of Heart Republic, The Power of Mapping, dan Merajut Asa Bersama Anak Negeri.

Buku lainnya, Menjadi Air di Tanah Kering, juga telah diterbitkan dan menjadi bagian dari perjalanan kepenulisannya.

Di tengah aktivitas menulis, Udin memilih kembali ke tanah kelahirannya. Ia mendirikan Rumah Baca Salahuddin Al Ayyubi sebagai ruang pengabdian dan literasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak di wilayah 3T Kabupaten Bima.

Dari aktivitas tersebut, ia juga mendapat penghargaan nasional dan dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan literasi yang digelar lembaga swadaya masyarakat, forum diskusi, pemerintah daerah hingga tingkat nasional.

Baginya, menulis dan pendidikan bukan sekadar aktivitas, tetapi jalan untuk membuka kesempatan dan mengubah masa depan generasi muda.

“Ini Kemenangan untuk Bima”
Masuknya karya Udin dalam arsip H.B. Jassin menjadi penanda penting perjalanan sastra Bima.

Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di Desa Sangia dan Bima secara umum untuk berani berkarya, meskipun berasal dari daerah dengan segala keterbatasannya.

“Ini bukan kemenangan saya sendiri. Ini kemenangan untuk Bima, untuk Sape, untuk Desa Sangia,” ujar Udin.

Kini, nama Udin Sape Bima tidak hanya hadir dalam halaman antologi. Karyanya juga telah menjadi bagian dari dokumentasi sastra nasional.

Dari Desa Sangia, kata-kata itu bergerak menuju Jakarta. Dari Jakarta, ia menjadi bagian dari arsip perjalanan sastra Indonesia.

Sebuah bukti bahwa karya dari desa pun mampu berdiri sejajar di panggung sastra nasional.

#OB.001#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *