BIMA.OBORBIMA.ID – Lebih dari 13 tahun mengabdikan diri sebagai relawan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Salahuddin, S.Pd., SD, terus menyalakan harapan bagi anak-anak pelosok yang berjuang menggapai cita-cita di tengah berbagai keterbatasan.
Pimpinan Tahfidz Quran Salahuddin Al Ayyubi itu mengaku kebahagiaan terbesar seorang pendidik bukanlah penghargaan atau materi, melainkan saat melihat murid-muridnya tumbuh dan tetap mengingat guru yang pernah mendampingi mereka.
“Rasa lelah seketika sirna ketika mendengar suara canda tawa anak-anak yang menggema dari atas bukit,” ungkap Salahuddin.
Selama menjalani pengabdian di berbagai wilayah pedalaman, ia banyak menemukan kisah yang menyentuh hati. Salah satunya ketika seorang anak mengeluhkan kondisi hidupnya sambil menangis. Anak tersebut bercerita bahwa ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri, sementara dirinya harus menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan.
“Kenapa saya juga tidak dapat? Sepatu saya bolong,” kata sang anak yang hingga kini masih membekas dalam ingatan Salahuddin.
Menurutnya, kisah seperti itu bukanlah cerita tunggal. Banyak anak di pelosok yang memiliki semangat belajar tinggi, namun harus berhadapan dengan kondisi ekonomi keluarga yang sulit.
Perjalanan panjang sebagai relawan pendidikan juga tidak selalu berjalan mulus. Salahuddin mengaku harus melintasi pegunungan, sungai, dan medan berat demi menjangkau anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Bahkan beberapa kali kondisi fisiknya menurun hingga harus menjalani perawatan medis akibat kelelahan.
Meski demikian, berbagai tantangan tersebut tidak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus mengabdi.
“Semua pengorbanan itu menjadi bagian dari perjalanan dalam menjaga harapan anak-anak bangsa,” katanya.
Di balik keterbatasan yang mereka hadapi, Salahuddin melihat besarnya cita-cita yang tumbuh dari anak-anak pedalaman. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, bidan, perawat, polisi, TNI, ulama, pilot, hingga pemimpin bangsa.
Namun, ia mengaku sering dihantui pertanyaan tentang masa depan mereka. Apakah mimpi-mimpi itu akan benar-benar terwujud atau justru terhenti karena keterbatasan yang mereka hadapi sejak kecil.
Kegelisahan itulah yang kemudian mendorong lahirnya Yayasan Tahfidz Quran Salahuddin Al Ayyubi. Melalui lembaga tersebut, Salahuddin bersama para relawan berupaya menghadirkan pendidikan, pembinaan Al-Qur’an, serta pendampingan karakter bagi generasi muda di wilayah 3T.
Inspirasi tersebut, menurutnya, diperoleh dari sosok Ir. Sholah Atiyah di Mesir yang mengajarkan pentingnya investasi kehidupan melalui pemberdayaan umat dan pendidikan yang berkelanjutan.
Saat ini, berbagai program yayasan telah menjangkau sejumlah wilayah di Kabupaten Bima, mulai dari Sape, Sanggar, Parado, Donggo hingga Tambora. Di daerah-daerah tersebut, mereka terus menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sekaligus menjaga harapan anak-anak agar tetap berani bermimpi.
“Setiap langkah, setiap luka, dan setiap air mata menjadi bahan bakar bagi kami untuk terus berjalan dan menebar manfaat,” ujar Salahuddin.
Ia berharap ikhtiar yang dilakukan bersama para relawan dapat melahirkan generasi Qurani yang berakhlak mulia, berilmu, serta mampu memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan daerah di masa depan.
“Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami dalam mewujudkan generasi Qurani di tanah kelahiran ini,” tutupnya.
