Gali Potensi Mete SP 4 Danakala, Tim Ekspedisi Patriot IPB Dorong Agroforestri Sebagai Solusi Pertanian Tambora

Ragam349 Dilihat

BIMA.OBORBIMA.ID – Tim Ekspedisi Patriot IPB University kembali melakukan observasi lapang di kawasan transmigrasi Tambora, tepatnya di Satuan Pemukiman (SP) 4 Dusun Danakala, Desa Kawinda Toi.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua Tim, Muh. Faturokhman, S.Pt., M.Si., bersama beberapa anggota tim yakni Anisa Fitri, Adila Hafizhah Batubara, dan Cempaka Chandra Kirana.

Dalam kunjungan tersebut, tim diterima oleh Kepala Dusun Danakala Syafrudin, serta tokoh masyarakat setempat Yusuf. Pertemuan berlangsung hangat di tengah areal perkebunan jambu mete yang menjadi ikon pertanian kawasan SP 4.

Tujuan dari observasi ini adalah untuk menyamakan persepsi dan mengonfirmasi hasil temuan lapangan dengan rencana laporan akhir penelitian Ekspedisi Patriot IPB University, yang nantinya akan disampaikan kepada Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia.

Langkah ini penting agar rekomendasi kebijakan yang disusun berdasarkan riset di lapangan benar-benar selaras dengan kondisi riil masyarakat di kawasan transmigrasi Tambora.

Ketua Tim, Muh. Faturokhman, menjelaskan, bahwa salah satu fokus utama laporan adalah penerapan konsep agroforestri di wilayah SP 4.

Sistem ini dinilai menjadi solusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.

“Kawasan SP 4 memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan tanaman jambu mete. Namun karena mete merupakan tanaman tahunan, perlu ada diversifikasi tanaman sela seperti jagung, kacang tanah, atau tanaman hortikultura agar lahan tetap produktif sepanjang tahun,” jelasnya.

Menurut hasil observasi, komoditas jambu mete menjadi tulang punggung utama ekonomi masyarakat SP 4. Bahkan, hampir seluruh warga memiliki kebun mete dengan total luas mencapai sekitar 200 hektare.

“Namun demikian, kendala modal dan nilai tambah pascapanen masih menjadi persoalan yang sering dihadapi oleh petani setempat,”terangnya.

Sementara itu Kepala Dusun Danakala Syafrudin menegaskan, Potensi mete di SP 4 ini luar biasa, hampir setiap rumah punya kebun. Tapi masalahnya, masyarakat masih kesulitan modal untuk menanam jagung atau tanaman lain saat musim tanam.

“Jadi kami berharap ada pendampingan dan pelatihan agar mete ini bisa diolah menjadi produk bernilai tambah,” ungkapnya.

Setelah berdiskusi di SP 4, tim melanjutkan kunjungan ke Desa Induk Kawinda Toi dan bertemu dengan Ketua BUMDes setempat, Randi. 

Dalam pertemuan itu, dibahas berbagai potensi ekonomi desa seperti perikanan tangkap, produksi madu hutan alami, serta pengembangan jambu mete dan jagung.

Randi menjelaskan, bahwa madu hutan Kawinda Toi yang diambil dari pohon dua banga merupakan produk alami dengan kualitas tinggi dan memiliki khasiat kesehatan yang luar biasa. Namun, pemasaran masih menjadi kendala utama.

“Madu hutan kami benar-benar alami dan dicari banyak orang, tapi promosi dan pemasaran masih lemah. Kami berharap hasil riset IPB bisa membantu kami menemukan solusi,” ujar Randi.

Kegiatan observasi ini menjadi bagian penting dari upaya IPB University untuk menghadirkan penelitian yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Melalui dialog bersama aparat dusun dan BUMDes, tim berharap hasil penelitian nanti dapat menjadi rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah maupun Kementerian Transmigrasi untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat Tambora secara berkelanjutan.

“Kami ingin laporan akhir ini bukan hanya sekadar hasil penelitian, tetapi juga menjadi panduan nyata bagi pengambil kebijakan untuk melihat potensi agroforestri dan produk unggulan seperti mete sebagai penggerak ekonomi masyarakat,” tutup Muh. Faturokhman.

*OB.092*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *