Penulis Abdul Rauf ST,MT
KOTA BIMA.OBORBIMA.ID – Kabupaten Bima memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Dari jagung, bawang merah, hasil laut, hingga garam—semuanya tersedia melimpah di tanah sendiri. Namun, potensi ini belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Kita masih terlalu bergantung pada pola produksi primer, menjual hasil mentah dengan harga murah, lalu membeli kembali produk olahan dari luar daerah dengan harga tinggi. Pola ini tidak sehat dan tidak akan membawa kita keluar dari jerat kemiskinan struktural.
Kini saatnya kita berpikir realistis dan bertindak konkret. Pengembangan ekonomi Bima harus bertumpu pada kekuatan lokal, bukan pada proyek-proyek artifisial yang tidak berakar pada realitas masyarakat. Jagung, misalnya, tak cukup hanya dipanen dan dijual dalam bentuk pipilan. Kita harus mendorong lahirnya industri rumah tangga atau UMKM pengolahan jagung—menjadi pakan ternak, tepung jagung, makanan ringan, atau bahan baku energi alternatif.
Demikian pula bawang merah. Komoditas ini sering mengalami fluktuasi harga saat panen raya. Solusinya bukan hanya dengan membatasi impor, tetapi juga membangun sentra pengeringan, penyimpanan, dan pengolahan bawang goreng skala lokal. Dengan begitu, petani memiliki pilihan untuk menjual dalam bentuk olahan saat harga turun drastis.
Di sektor kelautan, potensi hasil tangkap dan budidaya di Bima belum digarap maksimal. Padahal, dengan membangun cold storage, pusat pengolahan ikan, dan kemasan yang higienis, nelayan kita bisa meningkatkan daya saing produk laut hingga ke pasar ekspor. Rumput laut, ikan asin, udang kering, hingga keripik hasil laut bisa menjadi ikon produk unggulan daerah.
Tak kalah penting adalah garam. Pantai-pantai di wilayah Bima seperti di Talabiu, penapali, Santolo, sondosia dan daru, Sape, Wera, memiliki potensi produksi garam rakyat yang besar.
Namun lagi-lagi, tanpa pengolahan lanjutan dan manajemen tata niaga yang baik, garam kita hanya menjadi komoditas musiman. Padahal, garam bisa diolah menjadi produk industri: garam industri, garam farmasi, bahkan garam spa dan kecantikan.
Pembangunan pabrik pengolahan garam berbasis koperasi rakyat adalah langkah yang tepat dan masuk akal. Tinggal di kelolah oleh orang yg punya keterampilan dan manajemen yg teruji.
Potensi lainnya seperti madu hutan, kelor, kemiri, dan hasil pertanian herbal juga membuka peluang besar jika digarap dengan pendekatan teknologi sederhana dan pemasaran digital. Semua bahan baku sudah tersedia. Yang kita butuhkan adalah visi, kemauan kolektif, dan kebijakan berpihak.
Pemerintah daerah, OPD teknis, akademisi, dan pelaku usaha harus duduk bersama. Kita harus membangun model ekonomi berbasis kemandirian lokal. Inilah bentuk pembangunan yang realistis, murah dijalankan, tapi berdampak luas.
Kita tidak perlu menunggu investor besar atau program nasional. Kekuatan kita sudah ada di tangan sendiri—di sawah, di laut, di pekarangan, dan di semangat masyarakat Bima yang ulet dan tangguh.
(*)
