Dari Luka Gempa Lombok untuk NTT, Ratusan Relawan NTB Terima Penghargaan dari Dua Gubernur

Pemerintahan22 Dilihat

MATARAM, OBOR BIMA.ID –Solidaritas kemanusiaan dalam penanganan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) mempererat hubungan persaudaraan antara masyarakat NTB dan NTT.

Hal tersebut mengemuka dalam silaturahmi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Gubernur NTT E. Melkiades Laka Lena bersama ratusan relawan kemanusiaan NTB yang tergabung dalam KR-BNN NTB, di Pendopo Tengah Gubernur NTB, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan kepada para relawan yang telah berpartisipasi dalam misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa di wilayah Manggarai Timur dan Manggarai Barat. Acara itu turut dihadiri Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, Sekda NTB Abul Chair, para asisten Setda, serta kepala perangkat daerah terkait.

Gubernur NTT E. Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Provinsi NTB yang mengirimkan tim kemanusiaan untuk membantu warga terdampak bencana.
Menurutnya, kehadiran para relawan bukan hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan emosional bagi masyarakat yang tengah menghadapi situasi sulit.

“Kehadiran Bapak dan Ibu bukan hanya memberikan bantuan secara fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan emosional bagi masyarakat kami. Mereka merasa tidak sendirian, merasa diperhatikan, dan merasa bahwa masih banyak saudara yang peduli terhadap keadaan mereka,” ungkapnya.

Ia menggambarkan kedekatan emosional kedua daerah melalui ungkapan, “Tertusuk padaku, berdarah padamu.” Pesan tersebut menegaskan bahwa penderitaan yang dialami suatu daerah merupakan panggilan kemanusiaan bagi daerah lain untuk ikut membantu dan menguatkan.

Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pengiriman tim kemanusiaan ke NTT merupakan wujud nyata kepedulian yang lahir dari pengalaman masyarakat NTB menghadapi gempa Lombok pada 2018.

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika guncangan mereda. Masyarakat masih harus menghadapi rasa takut, kehilangan rasa aman, serta perjuangan panjang untuk memulihkan kehidupan.

“Ketika NTT mengalami musibah, kita tidak melihatnya sebagai persoalan daerah lain. Kita melihat saudara-saudara kita sedang menghadapi kesulitan yang pernah kita rasakan. Karena itu, kita tidak cukup hanya menyampaikan belasungkawa. Kita harus hadir, membantu, dan memastikan mereka tidak menghadapi penderitaan itu sendirian,” ujarnya.

Iqbal juga menekankan pentingnya menjadikan pengalaman misi kemanusiaan sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana. Koordinasi lintas sektor, kesiapan personel, dan dukungan logistik dinilai perlu terus ditingkatkan agar penanganan bencana dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan efektif.

Relawan Berangkat dalam Waktu Kurang dari 24 Jam

Ketua Satgas KR-BNN NTB yang juga Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB, Ahsanul Halik, menjelaskan bahwa tim kemanusiaan diberangkatkan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah adanya perintah dan arahan Gubernur NTB.

Selama lebih dari 15 hari, para relawan menjalankan berbagai kegiatan kemanusiaan, mulai dari pelayanan kesehatan, pengoperasian dapur umum, hingga pendampingan bagi masyarakat terdampak di Manggarai Timur dan Manggarai Barat.

Mewakili para relawan, Ahsanul menegaskan bahwa keterlibatan mereka dilandasi pengalaman dan empati terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

“Kami datang bukan karena kami tidak pernah terluka, tetapi justru karena kami tahu bagaimana rasanya terluka dan hal itu pernah kami rasakan pada Gempa Lombok 2018,” tuturnya.

Dalam misi tersebut, para relawan juga merasakan ketulusan masyarakat setempat. Di tengah keterbatasan akibat bencana, warga tetap berusaha berbagi, mulai dari menawarkan kelapa muda, menyuguhkan kopi dan pisang goreng, hingga memberikan kain khas daerah kepada para relawan.

Pengalaman itu menjadi bukti bahwa solidaritas kemanusiaan tidak hanya berbicara tentang bantuan yang diberikan, tetapi juga tentang ketulusan, penghargaan, dan hubungan persaudaraan yang tumbuh di antara sesama.

Silaturahmi dan penyerahan penghargaan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan NTB dan NTT dalam bidang kemanusiaan serta penanggulangan bencana.

Persaudaraan kedua daerah diharapkan tidak berhenti pada bantuan ketika bencana terjadi, tetapi terus terpelihara melalui kerja sama, kesiapsiagaan, dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Sebab, ketika saudara berduka, saudara yang lain tidak tinggal diam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *