KOTA BIMA.OBORBIMA.ID – Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan PGTK Kusuma Bangsa Kota Bima, yang dikenal sebagai sekolah inklusi pertama di Kota Bima sejak tahun 2016, berharap mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah terkait ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan.
Kepala PGTK Kusuma Bangsa, Retno Utami, SE., S.Pd., M.Pd. Kons, mengatakan bahwa selama hampir satu dekade sekolah tersebut belum memiliki gedung sendiri. Aktivitas belajar mengajar selama ini dilaksanakan di bangunan sewa dan kontrak yang telah digunakan selama kurang lebih 10 tahun.
“Sejak berdiri sebagai lembaga pendidikan inklusi pada tahun 2016, kami terus berupaya memberikan layanan pendidikan bagi seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Namun hingga saat ini kami belum memiliki gedung sendiri dan belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah,” ujarnya.
Retno menjelaskan, bangunan yang selama ini digunakan merupakan pinjaman dari Yayasan Istana Bima. Namun, karena lokasi tersebut akan segera direvitalisasi, pihak sekolah harus mencari tempat sementara agar proses belajar mengajar tetap berjalan.
Untuk sementara waktu, kegiatan belajar mengajar akan dipindahkan ke Kantor Lurah Paruga sembari menunggu proses pembangunan atau revitalisasi gedung yang sebelumnya digunakan selesai.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi yang nyata, baik melalui pembangunan gedung sekolah permanen maupun dukungan anggaran, agar layanan pendidikan inklusi di Kota Bima dapat terus berkembang.
“Kami ingin seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, tetap memperoleh hak pendidikan yang layak. Karena itu kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah terhadap keberlangsungan sekolah inklusi ini,” harapnya.
Keberadaan PGTK Kusuma Bangsa selama ini dinilai telah memberikan kontribusi penting dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif di Kota Bima.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan fasilitas, sekolah tersebut tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan yang ramah dan setara bagi seluruh peserta didik.
